Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

17/08/2013

Penghalang Ittiba': Mendahulukan Pendapat nenek Moyang di atas Dalil

Termasuk penghalang ittiba’ yang terbesar adalah mendahulukan pendapat nenek moyang, para guru dan para tokoh pembesar, atas nash-nash yang shahih. Allah berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ
Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104)
Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Jika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka berkata, cukup bagi kami jalan-jalan yang ditempuh oleh nenek moyang kami. Allah berfirman, ‘Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?’ Yakni, mereka tidak mengetahui, memahami dan mengikuti kebenaran. Lalu kenapa mereka tetap mengikutinya padahal demikian keadaannya?! Tidak ada yang mengikuti mereka melainkan orang yang lebih bodoh dari mereka dan lebih sesat jalannya”1.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ
Pada hari ketika wajah-wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata, aduhai, seandainya dulu kita mentaati Allah dan Rasul. Mereka berkata, wahai Rabb kami, sesungguhnya kami (dahulu) mentaati tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus), wahai Rabb kami, berikanlah kepada mereka siksaan dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar” (QS. Al-Ahzaab: 66-68)
Asy-Syaukani berkata, “Yang dimaksud dengan tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar adalah para pemimpin yang dipatuhi perintahnya di dunia dan diteladani. Dan di dalam firman Allah ini terdapat larangan keras dari taklid. Alangkah banyaknya peringatan-peringatan di dalam al-Qur’an terhadap taklid. Akan tetapi hal itu hanyalah bagi orang yang memahami dan mengikuti firman Allah serta bersikap adil terhadap dirinya, bukan bagi orang yang sejenis dengan binatang ternak di dalam pemahaman yang buruk, keras kepala dan kefanatikan”2.
Dan telah datang banyak riwayat dari salaf (ulama terdahulu) yang memperingatkan hal itu. Diantaranya:
Perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu kepada ‘Urwah bin Zubair ketika dia berkata dalam suatu masalah, “Adapun Abu Bakar dan Umar, mereka tidak melakukannya”. Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, aku melihat kalian tidak akan berhenti kecuali Allah mengadzab kalian. Kami menyampaikan hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kepada kalian, namun kalian menyampaikan kepada kami perkataan Abu Bakar dan Umar”3.
Dan perkataan Ibnu Mas’ud, “Ketahuilah, janganlah salah seorang di antara kalian taqlid kepada seseorang di dalam agamanya, jika dia beriman dia ikut beriman, jika dia kafir diapun ikut kafir. Dan jika kalian harus mengambil teladan, maka terhadap orang yang telah mati. Karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah (ujian/kesesatan-pen)”4.
Di dalam satu riwayat dari beliau, “Janganlah salah seorang di antara kalian taklid kepada seseorang di dalam agamanya, jika dia beriman dia ikut beriman, jika dia kafir diapun ikut kafir. Karena tidak ada keteladanan di dalam keburukan.”5.
Umar bin Abdil Aziz berkata, “Tidak ada hak berpendapat bagi seorangpun bersama adanya sunnah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam6.
Asy-Syafi’i berkata, “Manusia telah bersepakat, barangsiapa yang telah jelas baginya satu sunnah dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, maka dia tidak boleh meninggalkannya karena perkataan/pendapat seorang manusia.” Dan telah shahih riwayat dari beliau bahwa beliau berkata, “Tidak ada hak berpendapat bagi seorangpun bersama adanya sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam7.
Ibnu Khuzaimah berkata, “Tidak ada hak berpendapat bagi seorangpun bersama dengan adanya (hadits-pen) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, jika telah shahih hadits dari beliau”8.
Dan Ibnu Taimiyah memiliki perkataan yang sangat berharga tentang hal ini. Beliau berkata, “Agama Allah dibangun di atas pondasi ittiba’ (mengikuti) Kitabullah, sunnah Nabi-Nya dan kesepakatan umat ini. Maka tiga pondasi inilah yang terjaga (dari kesalahan-pen). Segala sesuatu yang diperselisihkan umat ini, mereka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada seorangpun yang berhak mengangkat seorang individu bagi umat ini yang dia dakwahkan jalannya, dia tegakkan sikap loyal dan permusuhan karenanya kecuali perkataan Allah dan RasulNya serta kesepakatan umat ini. Bahkan sikap ini adalah perbuatan ahlu bid’ah, yang mengangkat seorang individu bagi mereka atau mengangkat suatu perkataan untuk memecah belah umat. Mereka menyandarkan sikap loyal dan permusuhan mereka di atas perkataan atau jalan tesebut”9.
Dan perkataan Al-Karkhi – semoga Allah mengampuninya – menunjukkan kepada puncak kejahatan yang dicapai oleh sikap mendahulukan pendapat manusia – siapapun orangnya – di atas nash yang shahih. Dia berkata, “Setiap ayat yang menyelisihi pendapat sahabat-sahabat kami, maka ayat itu di-takwil (dipalingkan maknanya-pen) atau di-mansukh (dihapus hukumnya-pen). Begitu pula setiap hadits (yang menyelisihi pendapat sahabat-sahabat kami-pen), maka di-takwil atau di-mansukh10.
Saya katakan, “Inilah yang dipegangi oleh kebanyakan manusia pada zaman ini, yang mendahulukan pendapat guru-guru mereka atau kelompok-kelompok mereka atau partai-partai mereka di atas nash-nash yang telah tetap dan shahih. Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.
Catatan Kaki
1 Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (2/108, 109).
2 Fathul Qadir (4/431).
3 Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (2/1209-1210) no. 2377.
4 Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Al-Lalikai (1/903) no. 130.
5 I’laamul Muwaqqi’in (2/135).
6 Idem (2/201).
7 Idem (2/201).
8 Idem (2/202).
9 Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (20/164).
10 Ar-Risalah fi Ushulil Hanafiyah karya Al-Karkhi, 169-170, (dicetak bersama kitab Ta’sis An-Nazhar karya Ad-Dabusi).

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id


08/06/2013

TANTANGAN PEMASARAN ABAD 21




Ada 5 tantangan yang dibahas mengenai tantangan pemasaran abad 21 yakni sebagai berikut;
a.       Tantangan visi
Sering kali pengambilan keputusan pemasaran lebih didasarkan pada pemenuhan tuntutan masa sekarang. Tanggung jawab untuk melihat masa depan menjadi beban para eksekutif pemasaran.
Pengembangan diri menjadi visionary marketer secara ideal perlu mengadopsi faham kewirausahaan yang mengutamakan produktivitas dan menerima tanggung jawab utama sebagai innovator dan risk taker. Pemasar harus mempunyai keberanian untuk mendobrak kemapanan dan kreatif dalam menentukan strategi pemasaran.

b.      Tantangan pada power marketing
Landasan utama power marketing adalah memanusiakan pelanggan yang terangkum dalam konsep customer centered marketing. Dengan demikian konsumen merupakan subyek, bukan obyek dari pemasaran. Power marketing akan bertumpu pada tiga kata kunci; moving, caring dan inovating. Moving merupakan tumpuan untuk menjawab gelora persaingan dan dinamika permintaan yang selalu bergejolak karena ekspektasi pelanggan yang semakin tinggi. Dalam perwujudannya, moving musti disertai kepedulian kepada pelanggan ( caring ) melalui langkah-langkah inovasi ( inovating ) di bidang strategi, manajerial, maupun produk/jasa.

Inovasi merupakan proses untuk menghantarkan nilai tambah bagi pelanggan. Kepuasan pelanggan akan mampu menciptakan kepercayaan dan hubungan jangka panjang yang berkelanjutan, yang artinya tercipta loyalitas pelanggan. Hubungan pelanggan tidak sekedar hubungan pada dataran rasional belaka, tetapi sudah jauh merasuk ke dalam ranah emosi pelanggan. Sehingga pangsa pasar yang digenggam bukan hanya mind share, namun sudah masuk ke wilayah heart share.

c.       Tantangan pada Transferable Marketing
Biaya pemasaran untuk memasuki arena global, secara logis akan meningkat pula. Salah satu cara untuk dapat meningkatkan efisiensi biaya adalah dengan memanfaatkan transferable marketing. Yang dimaksud dengan tranferable marketing adalah penyusunan pola pemasaran yang dapat dimanfaatkan untuk beberapa lokasi atau pasar sasaran dengan derajat universalitas yang ditingkatkan. Contoh yang bagus adalah konsep pemasaran dari DeBeers berlian. DeBeers dibuat di London dan Hongkong, sedang pemanfaatannya disebar ke berbagai lokasi, termasuk Indonesia. Penyebaran ini ( termasuk manfaat dan modelnya ) di sesuaikan dengan situasi negara setempat.


d.      Tantangan pada Manajemen Merek
Dalam upaya meningkatkan kelanggengan suatu perusahaan di dunia global, para pemasar ditantang untuk meningkatkan reputasi merek. Peran reputasi merek menjadi lebih penting untuk konteks abad 21 lantaran banyaknya jumlah merek yang beredar di pasar. Oleh karena itu, di dalam perusahaan perlu ditumbuhkan adanya iklim kerja yang diwarnai dengan kebanggaan merek ( brand minded culture ). Harus pula diperhatikan pelaksanaan analisis realitas merek ke benak konsumen dalam rangka menentukan strategi peningkatan identitas merek.

e.       Tantangan pada Etika Pemasaran
Masyarakat dan konsumen saat sekarang, terlebih lagi pada masa depan, akan peduli terhadap kualitas dan mulai memperhatikan sisi moralitas dan tanggung jawab sosial perusahaan. Termasuk dalam konteks ini adalah tingkat moralitas dari setiap keputusan pemasaran dan dampaknya bagi pelanggan (stake holder) secara keseluruhan. Hal ini semakin dipertajam dengan adanya berbagai pendapat miring yang berkaitan dengan pemasaran, seperti rekayasa produk, penyalahgunaan label dan iklan. Dalam situasi dimana persaingan menjadi lebih ketat dan reputasi perusahaan menjadi modal penting, maka mau tidak mau setiap kebijakan dan keputusan haruslah didasarkan pada kode etik yang berlaku dan ditetapkan oleh perusahaan maupun asosiasi profesional. Kode etik utama yang harus diperhatikan oleh para pemasar adalah; kejujuran dan keadilan dalam proses pemasaran, kode etik dalam bidang promosi, kebijakan harga dan distribusi, kode etik dalam riset pemasaran dan komitmen dalam memajukan peradaban manusia.

f.        Tantangan pada Persaingan Pasar
Perusahaan pada abad sekarang ini dihadapkan pada persaingan pasar yang sangat ketat, sehingga mereka dituntut untuk lebih bijak dalam menyikapi hal tersebut. Dalam hal ini pemasar harus mengubah presepinya dalam bersaing sehingga mereka mampu bersaing secara sehat dalam pasar. Hendaknya pesaing tersebut jangan dianggap sebagai musuh akan tetapi hendaknya pesaing tersebut dijadikan sebagi motivasi untuk terus memperbaiki atau meningkatkan kualitas produknya sehingga mampu menjadi pilihan konsumen.
Adapun kesimpulan dari kelima tantangan diatas adalah sebagai berikut: Tantangan pemasaran abad 21 seperti disebut diatas merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh para pemasar apabila ingin memenangkan persaingan. Pemasar sejak dini harus mampu mengantisipasi perubahan substansial dari pemasaran ini. Antisipasinya tidak terlalu sulit. Hanya dibutuhkan dua cara; mengoptimalkan kecerdasan dan bersahabat dengan perubahan.


Daftar Refrensi
http://www.scribd.com
 


27/05/2013

Pemuda = Perubahan



Oleh : Sahabudin Rasyid
Tanggal 20 mei 1908 adalah tonggak sejarah perjuangan bangsa indonesia yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah. Akan terkenang sepanjang sejarah. Tanggal 20 Mei 1908 merupakan salah satu sejarah yang membuktikan betapa  besarnya peran pemuda dalam membangun suatu bangsa, sekali lagi 20 Mei 1908 membuktikan bahwa PEMUDA adalah pelopor perubahan.
Sejarah telah banyak mencatat bahwa banyak perubahan besar yang baik atau buruk selalu di pelopori oleh pemuda, Pemuda jugalah yang "memaksakan" kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemuda jugalah yang menggerakan TRITURA dan pemuda jugalah yang berinisiatif "menjatuhkan Rezim Soeharto" 1998.  
Karena itu kata kuncinya adalah PEMUDA dan PERUBAHAN. lalu muncul pertanyaan dalam benak kita, pemuda yang sperti apakah yang bisa membawa perubahan itu? Apakah semua pemuda? Lalu perubahan yang seperti apa yang di harapkan dari para pemuda itu?
Jawabnnya adalah pemuda pembawa perubahan itu adalah pemuda yang enerjik, intelek, dan peduli akan perubahan, karena itu pemuda pembawa perubahan itu bukanlah sembarangan pemuda. pemuda pembawa perubahan itu adalah orang-orang yang “Gila”, yang memikirkan perubahan negara, sementara mereka belum tentu mampu mengubah diri mereka sendiri. Pemuda perubahan itu adalah orang-orang “ Katrok”  yang suka merenung sendiri tentang perubahan apa yang akan dilakukan untuk negaranya. Pemuda perubahan itu adalah orang-orang yang “ Tidak Gaul” , banyak menghabiskan waktu bermainnya di forum-forum diskusi kecil yang  membahas bagaimana memberikan mamfaat kepada bangsa dan negaranya,  memikirkan orang lain bahkan “lupa” diri sendiri..
Lalu Perubahan apa yang diharapkan dari para pemuda itu? Perubahan yang diharapkan tentunya adalah perubahan yang membawa  kebaikan bukan perubahan yang justru memperkeruh suasana, dengan hanya menyalahkan tanpa mampu memberikan soslusi atas permasalahan bangsanya.
Maka sehrusnya pemuda intelek yang enerjik tersebut mampu memberikan sedikit kontribusi bagi perubahan bangsanya, bahkan sebenarnya perubahan yang dibutuhkan bangsa indonesia untuk saat ini adalah perubahan besar di segala bidang, Masalah korupsi, kesenjangan yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin, sikap hidup hedon, dunia yang semakin dikuasai hawa nafsu sepertinya mengajak "Pemuda" perlu berkontribusi lebih jauh. Tapi apa? Sering kita mendengar kalimat klise, mulailah dari diri sendiri, biar tidak dicap sebagai orang Munafik :)...Tapi sepertinya "Pemuda" haruslah mulai bergerak. Dalam bidang apa kita bergerak ya..terserah kita  dibidang apa yang kita mampu. Untuk pernyataan  klise di atas spertinya Pemuda perlu disadarkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah orang yang berusaha untuk sempurna meskipun kesempurnaan itu tidak akan pernah di dapatkan, bukankah kita sering mendengar bahwa “yang dinilai oleh Allah SWT adalah proses yang kita jalani bukan hasil yang kita peroleh”. Jadi, sobat muda hilangkan pernyatan klise itu dari dalam diri kita dan bergeraklah “ PERBAIKI DIRI, TEBARKAN KEBAIKAN UNTUK PERUBAHAN.